Panglima Ali

Switch to desktop Register Login

Membangun Karakter Religius melalui Seni (Bag-1) Featured

Rate this item
(0 votes)
FOTO: MI/ADAM DWI PUTRA FOTO: MI/ADAM DWI PUTRA

 

Oleh: Agus Setiawan, S.Pd
(Guru SMAN 1 Driyorejo)

Bentuk perilaku yang disadari sebagai bagian dari cara hidup tertentu dalam masyarakat muslim berkaitan dengan kesadaran untuk selalu mengadakan hubungan dan pendekatan dengan penciptanya. Dapat dikatakan bahwa bentuk pengamalan dan penghayatan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah khusus seperti sholat, tetapi juga ibadah umum dalam bentuk tingkah laku tertentu, termasuk dalam hal berkesenian. Sejatinya, kesenian harus merambah penguatan lima hal: kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), kreativitas (CQ) serta aktivitas (AQ).

Berkaitan dengan upaya pembentukan karakter, Kementrian Pendidikan Nasional R.I. mengadopsi 18 pilar pendidikan karakter untuk diberlakukan dalam pendidikan sekolah, dari tingkat SD sampai dengan tingkat SMA. Penjabaran Pendidikan karakter ini sebelumnya telah diamanatkan secara garis besarnya dalam UU Sistim Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 di mana salah satu tujuan pendidikan nasional adalah tercapainya pendidikan karakter. Religius adalah salah satu dari 18 pilar tersebut. Karakter religius ini bisa tercermin dari beberapa tarian Islam.

Kualitas estetik tari sebagai prestasi kreativitas manusia tidak lepas dari pengaruh nilai budaya yang melatarbelakanginya. Nilai budaya Islam sebagai pandangan hidup telah melatarbelakangi perilaku umatnya. Hal tersebut tergambar dalam nuansa tari Rodat, Zapin serta Hadrah, misalnya. Nampak jelas bagaimana norma-norma keindahan dengan latar belakang Islam terperaga.

Tauhid dan dzikir yang terdapat pada tari Rodat, Zapin dan Hadrah di antaranya diwadahi lewat gerak, syair iringan dan tata panggung sebagai perwujudan kreativitas dalam bentuk koreografi yang mendapat pengaruh budaya yang bercorak Islam.

Tauhid dan dzikir sebagai nilai Islam diwujudkan dalam bentuk kreativitas tari yang diharapkan dapat memberikan makna bagi manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan dalam perannya sebagai pembimbing dalam kehidupan beragama untuk mencapai kualitas takwa.

Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula tauhid dan dzikir. Nilai-nilai ajaran Islam yang dominan dalam masyarakat Islam merupakan sumber acuan dalam lahirnya kesenian. Demikian halnya dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya.

Nilai-nilai ajaran Islam akan menjadi bingkai penuangan keindahan dalam kesenian Islam. Sehingga kekuatan nilai tersebut tidak hanya menjiwai dan mewarnai tetapi memberi bentuk terhadap keseniannya.
Menjadi salah satu ekpresi budaya manusia, seni tari akan selalu hadir dan dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan. Sehingga persoalan yang ada di dalamnya berkaitan dengan masalah cita budaya dari masyarakat yang menghasilkannya. Sebagai mahluk berbudaya manusia memiliki potensi yang bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi budaya setempat.

Nilai-nilai Agung dalam Koreografi Rodat, Zapin dan Hadrah

Sepanjang peradaban kehidupan tari, kreativitas mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Sehingga kreativitas itu memberi makna terhadap kehidupan sekaligus mencerminkan kualitas dari sebuah peradaban dalam proses kebudayaan yang makin berkembang.

Kreativitas merupakan faktor yang paling penting dalam perubahan sosial budaya. Dengan kreativitas manusia memberikan makna terhadap realitas alam semesta dan mengembangkan corak kehidupannya. Sehingga pada fase tertentu banyak kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan melalui interaksi dengan lingkungan fisik, sosial, intelektual dan spiritual.

Dalam peristiwa kesenian, suatu bentuk kreativitas yang terungkap dalam Rodat, Zapin dan Hadrah memiliki nilai dan makna antara lain religius dan makna sosial. Nilai yang tercermin dari tari-tari tersebut dalam peristiwa kesenian yng berlangsung dalam kehidupan yang membudaya, pada hakekatnya merupakan perwujudan dari nilai kebersamaan yang timbul dari kesadaran individual ataupun kolektif yang lahir dari lapisan agamanya yang terdalam sebagai faktor yang mendasari keberadaannya.

Dalam sajiannya, terdapat nilai yang tinggi. Juga terdapat nilai yang menyangkut tentang kebenaran hidup yang diwahyukan oleh Tuhan melalui utusan-Nya. Hal tersebut merupakan unsur sajian utamanya. Tujuannya adalah menarik umat Islam untuk mencintai ajaran-Nya.

Ditinjau dari segi koreografinya, ketiganya tersaji gerak yang sebenarnya sederhana. Dengan tehnik yang tidak terlalu rumit. Pemusatan gerak tertumpu pada tangan dengan volume ruang di depan tubuh. Serta banyak bertumpu pada kaki (Zapin). Kesederhanaan tersebut juga nampak pada penggunaan pola lantai.|Bersambung "Membangun Karakter Religius melalui Seni (Bag-II)

 

Last modified on Monday, 04 June 2012 12:10